A.PERKEMBANGAN
AGAMA HINDU DI INDIA MUNCULNYA AGAMA HINDU
Perkembangan
agama Hindu-Budha tidak dapat lepas dari peradaban lembah Sungai Indus, di
India. Di Indialah mulai tumbuh dan berkembang agama dan budaya Hindu dan
Budha. Dari tempat tersebut mulai menyebarkan agama Hindu-Budha ke tempat lain
di dunia. Agama Hindu tumbuh bersamaan dengan kedatangan bangsa Aria (cirinya
kulit putih, badan tinggi, hidung mancung) ke Mohenjodaro dan Harappa melalui
celah Kaiber (Kaiber Pass) pada 2000-1500 SM dan mendesak bangsa Dravida
(berhidung pesek, kulit gelap) dan bangsa Munda sebagai suku bangsa asli yang
telah mendiami daerah tersebut. Bangsa Dravida disebut juga Anasah yang berarti
berhidung pesek dan Dasa yang berarti raksasa. Bangsa Aria sendiri termasuk
dalam ras Indo Jerman. Awalnya bangsa Aria bermatapencaharian sebagai peternak
kemudian setelah menetap mereka hidup bercocok tanam. Bangsa Aria merasa ras
mereka yang tertinggi sehingga tidak mau bercampur dengan bangsa Dravida.
Sehingga bangsa Dravida menyingkir ke selatan Pegunungan Vindhya.
Orang
Aria mempunyai kepercayaan untuk memuja banyak Dewa (Polytheisme), dan
kepercayaan bangsa Aria tersebut berbaur dengan kepercayaan asli bangsa
Dravida. Oleh karena itu, Agama Hindu yang berkembang sebenarnya merupakan
sinkretisme (percampuran) antara kebudayaan dan kepercayaan bangsa Aria dan
bangsa Dravida. Selain itu, istilah Hindu diperoleh dari nama daerah asal
penyebaran agama Hindu yaitu di Lembah Sungai Indus/ Sungai Shindu/ Hindustan
sehingga disebut agama dan kebudayaan Hindu. Terjadi perpaduan antara budaya
Arya dan Dravida yang disebut Kebudayaan Hindu (Hinduisme). Daerah perkembangan
pertamanya terdapat di lembah Sungai Gangga, yang disebut Aryavarta (Negeri
bangsa Arya) dan Hindustan (tanah milik bangsa Hindu).
DEWA,KITAB
SUCI dan SISTEM KASTA
Dalam
ajaran agama Hindu dikenal 3 dewa utama, yaitu:
Brahma
sebagai dewa pencipta segala sesuatu.
Wisnu
sebagai dewa pemelihara alam.
Siwa
sebagai dewa perusak.
Ketiga
dewa tersebut dikenal dengan sebutan Tri Murti.
Kitab
suci agama Hindu disebut Weda (Veda) artinya pengetahuan tentang agama.
Pemujaan terhadap para dewa-dewa dipimpin oleh golongan pendeta/Brahmana.
Ajaran ritual yang dijadikan pedoman untuk melaksanakan upacara keagamaan yang
ditulis oleh para Brahmana disebut kitab Veda/Weda yang terdiri dari 4 bagian,
yaitu:
• Reg
Veda, berisi tentang ajaran-ajaran Hindu, merupakan kitab tertua (1500-900 SM)
kira-kira muncul saat bangsa Aria ada di Punjab.
• Yajur
Veda, berisi doa-doa yang dibacakan waktu diselenggarakan upacara agama, lahir
saat bangsa Aria menguasai daerah Gangga Tengah.
• Sama
Veda, berisi nyanyian puji-pujian yang wajib dinyanyikan saat diselenggarakan
upacara agama.
•
Atharwa Veda, berisi kumpulan mantera-mantera gaib, doa-doa untuk menyembuhkan
penyakit. Doa/mantra muncul saat bangsa Arya menguasai Gangga Hilir.
Hindu
mengenal pembagian masyarakat atas kasta-kasta tertentu, yaitu Brahmana,
Ksatria, Waisya dan Sudra. Pembagian tersebut didasarkan pada tugas/ pekerjaan
mereka.
•
Brahmana bertugas mengurus soal kehidupan keagamaan, terdiri dari para pendeta.
•
Ksatria berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk pertahanan Negara,
terdiri dari raja dan keluarganya, para bangsawan, dan prajurit.
•
Waisya bertugas berdagang, bertani, dan berternak, terdiri dari para pedagang.
• Sudra
bertugas sebagai petani/ peternak, para pekerja/ buruh/budak, merupakan para
pekerja kasar.
Di luar
kasta tersebut terdapat kasta Paria terdiri dari pengemis dan gelandangan.
Perkawinan antar kasta dilarang dan jika terjadi dikeluarkan dari kasta dan
masuk dalam golongan kaum Paria seperti bangsa Dravida. Paria disebut juga
Hariyan dan merupakan mayoritas penduduk India.
Pembagian
kasta muncul sebagai upaya pemurnian terhadap keturunan bangsa Aria sehingga
dilakukan pelapisan yang bersumber pada ajaran agama. Pelapisan tersebut
dikenal dengan Caturwangsa/Caturwarna, yang berarti empat keturunan/ empat
kasta. Pembagian kasta tersebut didasarkan pada keturunan.
KEMUNDURAN
AGAMA HINDU
Pada
abad ke 6 SM agama Hindu mengalami kemunduran disebabkan oleh faktor-faktor,
yaitu:
1. Kaum
Brahmana yang memonopoli upacara keagamaan membuat sebagai dari mereka
bertindak sewenang-wenang. Contoh: rakyat dibebankan untuk memberikan korban
yang telah ditetapkan.
2.
Sistem kasta membedakan derajat dan martabat manusia berdasarkan kelahirannya.
Golongan Brahmana merasa berada pada kasta tertinggi dan paling berkuasa
terutama untuk mempelajari kitab-kitab suci agama Hindu lainnya. Sehingga hal
ini menimbulkan rasa anti agama.
3.
Timbul golongan yang berusaha mencari jalan sendiri untuk mencapai hidup abadi
yang sejati. Golongan tersebut disebut golongan Buddha yang dihimpun oleh
Sidharta.
B.PROSES
MASUKNYA HINDU DAN BUDHA DI INDONESIA
Agama Hindu dan Budha berasal dari
Jazirah India yang sekarang meliputi wilayah negara India, Pakistan, dan
Bangladesh. Kedua agama ini muncul pada dua waktu yang berbeda (Hindu: ±1500
SM, Budha: ±500 SM), namun berkembang di Indonesia pada waktu yang hampir
bersamaan. Munculnya agama Hindu dan Budha di Indonesia berawal dari hubungan
dagang antara pusat Hindu Budha di Asia seperti China dan India dengan
Nusantara. Hubungan dagang antara masyarakat Nusantara dengan para pedagang
dari wilayah Hindu Budha inilah yang menyebabkan adanya asimilasi budaya,
sehingga agama Hindu dan Budha lambat laun mulai berkembang di Nusantara.
Kepulauan Nusantara yang diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) serta oleh dua samudra (Hindia dan Pasifik), mempunyai letak yang sangat strategis dalam jalur perdagangan dunia kala itu. Hal ini membuat para pedagang asing dari negeri-negeri lain seperti Cina, India, Persia, dan Arab sering singgah di kepulauan Nusantara. Para pedagang asing ini tidak hanya berkepentingan untuk berdagang di Nusantara. Mereka juga menjalin interaksi secara sosial budaya dengan masyarakat lokal, sehingga masuklah pengaruh-pengaruh kebudayaan mereka ke Nusantara, termasuk pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha. Sebenarnya ada beberapa teori yang diajukan oleh para ahli mengenai siapa sebenarnya yang membawa agama Hindu dan Budha di Indonesia, berikut adalah beberapa teori/hipotesa mengenai masuknya agama hindu dan budha di indonesia.
1. Teori Brahmana
Teori yang diprakarsai oleh Van Leur ini menyatakan bahwa kaum Hindu dari kasta Brahmanalah yang mempunyai peran paling besar dalam proses masuknya agama dan budaya Hindu di Indonesia. Hal ini mengingat bahwa Kitab Weda ditulis dengan Bahasa Sansekerta yang hanya dipahami oleh kaum Brahmana. Para Brahmana yang berasal dari pusat-pusat Hindu di dunia ini datang karena undangan para penguasa lokal yang ingin yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai agama Hindu. Para raja/penguasa pribumi tersebut adalah penganut kepercayaan animisme dan dinamisme sebelum datangnya pengaruh Hindu dan Budha.
2. Hipotesa Ksatria
Menurut teori yang diusung oleh C.C. Berg ini, agama Hindu dibawa ke Indonesia oleh kaum ksatria (kaum prajurit kerajaan). Hal ini terjadi karena pada awal abad Masehi sering terjadi kekacauan politik di India sehingga sering terjadi perang antargolongan di negeri ini. Para prajurit perang yang terdasak musuh atau telah jenuh berperang akhirnya meninggalkan tanah air mereka. Diantara para ksatria yang mencari tempat pelarian ini, sebagian ada yang mencapai Indonesia. Mereka inilah yang kemudian membuat koloni dan beralkulturasi dengan penduduk lokal. Hal ini membuat semakin banyak masyarakat lokal yang menganut agama Hindu, pada perkembangan berikutnya, akhirnya lahirlah kerajaan Hindu di Nusantara.
3. Hipotesa Waisya
Menurut teori ini, kaum Hindu dari kasta Waisya adalah yang paling berjasa dalam penyebaran agama Hindu di Indonesia. Kaum Waisya adalah mereka yang berasal dari kalangan pekerja ekonomi seperti pedagang dan saudagar. Para pedagang yang berasal dari India atau pusat-pusat Hindu lain di Asia ini banyak melakukan hubungan dagang dengan masyarakat atau penguasa pribumi. Hali inilah yang membuka peluang bagi masuknya agama Hindu di Indonesia. Teori Waisya ini diprakarsai oleh Dr. N. J. Krom.
4. Hipotesa Sudra
Orang-orang yang tergolong dalam Kasta Sudra adalah mereka yang dianggap sebagai orang buangan. Kaum Sudra ini diduga datang ke Indonesia bersama kaum Waisya atau Ksatria. Karena datang dalam jumlah yang sangat besar, kaum Sudra inilah yang telah memberikan andil paling besar terkait masuknya agama Hindu ke Indonesia.
Meskipun disampaikan oleh para ahli, keempat teori diatas tetap mempunyai kelemahannya masing-masing. Hal tersebutkarena kitab Weda yang merupakan kitab suci agama Hindu ditulis menggunakan bahasa Sansekerta dan Pallawa yang notabene hanya dikuasai oleh kaum Brahmana. Kaum Ksatria, Waisya, dan Sudra tentu saja akan sangat kesulitan menyebarkan agama Hindu di Indonesia karena mereka tidak memahami Bahasa Sansekerta yang merupakan bahasa dalam kitab Weda. Namun demikian, menurut kepercayaan India kuno, kaum Brahmana tidak boleh menyeberangi lautan sehingga hampir mustahil untuk kaum Brahmana menyebarkan Hindu di Indonesia Secara langsung.
Karena keempat teori yang saya sampaikan diatas memiliki banyak kelemahan, maka muncullah teori lain yaitu teori arus balik. Teori ini dicetuskan oleh F.D.K Bosch, menurutnya Agama Hindu masuk ke Indonesia karena dibawa oleh orang Indonesia sendiri. Orang-orang Indonesia yang membawa Agama Hindu ke Indonesia ini berasal dari golongan pemuda yang memang sengaja dikirim oleh para penguasa pribumi untuk mempelajari agama Hindu dan Budha di India. Setelah selesai belajar di India, mereka kemudian pulang ke Nusantara lalu mulai menyebarkan agama Hindu atau Budha.
Kepulauan Nusantara yang diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) serta oleh dua samudra (Hindia dan Pasifik), mempunyai letak yang sangat strategis dalam jalur perdagangan dunia kala itu. Hal ini membuat para pedagang asing dari negeri-negeri lain seperti Cina, India, Persia, dan Arab sering singgah di kepulauan Nusantara. Para pedagang asing ini tidak hanya berkepentingan untuk berdagang di Nusantara. Mereka juga menjalin interaksi secara sosial budaya dengan masyarakat lokal, sehingga masuklah pengaruh-pengaruh kebudayaan mereka ke Nusantara, termasuk pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha. Sebenarnya ada beberapa teori yang diajukan oleh para ahli mengenai siapa sebenarnya yang membawa agama Hindu dan Budha di Indonesia, berikut adalah beberapa teori/hipotesa mengenai masuknya agama hindu dan budha di indonesia.
1. Teori Brahmana
Teori yang diprakarsai oleh Van Leur ini menyatakan bahwa kaum Hindu dari kasta Brahmanalah yang mempunyai peran paling besar dalam proses masuknya agama dan budaya Hindu di Indonesia. Hal ini mengingat bahwa Kitab Weda ditulis dengan Bahasa Sansekerta yang hanya dipahami oleh kaum Brahmana. Para Brahmana yang berasal dari pusat-pusat Hindu di dunia ini datang karena undangan para penguasa lokal yang ingin yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai agama Hindu. Para raja/penguasa pribumi tersebut adalah penganut kepercayaan animisme dan dinamisme sebelum datangnya pengaruh Hindu dan Budha.
2. Hipotesa Ksatria
Menurut teori yang diusung oleh C.C. Berg ini, agama Hindu dibawa ke Indonesia oleh kaum ksatria (kaum prajurit kerajaan). Hal ini terjadi karena pada awal abad Masehi sering terjadi kekacauan politik di India sehingga sering terjadi perang antargolongan di negeri ini. Para prajurit perang yang terdasak musuh atau telah jenuh berperang akhirnya meninggalkan tanah air mereka. Diantara para ksatria yang mencari tempat pelarian ini, sebagian ada yang mencapai Indonesia. Mereka inilah yang kemudian membuat koloni dan beralkulturasi dengan penduduk lokal. Hal ini membuat semakin banyak masyarakat lokal yang menganut agama Hindu, pada perkembangan berikutnya, akhirnya lahirlah kerajaan Hindu di Nusantara.
3. Hipotesa Waisya
Menurut teori ini, kaum Hindu dari kasta Waisya adalah yang paling berjasa dalam penyebaran agama Hindu di Indonesia. Kaum Waisya adalah mereka yang berasal dari kalangan pekerja ekonomi seperti pedagang dan saudagar. Para pedagang yang berasal dari India atau pusat-pusat Hindu lain di Asia ini banyak melakukan hubungan dagang dengan masyarakat atau penguasa pribumi. Hali inilah yang membuka peluang bagi masuknya agama Hindu di Indonesia. Teori Waisya ini diprakarsai oleh Dr. N. J. Krom.
4. Hipotesa Sudra
Orang-orang yang tergolong dalam Kasta Sudra adalah mereka yang dianggap sebagai orang buangan. Kaum Sudra ini diduga datang ke Indonesia bersama kaum Waisya atau Ksatria. Karena datang dalam jumlah yang sangat besar, kaum Sudra inilah yang telah memberikan andil paling besar terkait masuknya agama Hindu ke Indonesia.
Meskipun disampaikan oleh para ahli, keempat teori diatas tetap mempunyai kelemahannya masing-masing. Hal tersebutkarena kitab Weda yang merupakan kitab suci agama Hindu ditulis menggunakan bahasa Sansekerta dan Pallawa yang notabene hanya dikuasai oleh kaum Brahmana. Kaum Ksatria, Waisya, dan Sudra tentu saja akan sangat kesulitan menyebarkan agama Hindu di Indonesia karena mereka tidak memahami Bahasa Sansekerta yang merupakan bahasa dalam kitab Weda. Namun demikian, menurut kepercayaan India kuno, kaum Brahmana tidak boleh menyeberangi lautan sehingga hampir mustahil untuk kaum Brahmana menyebarkan Hindu di Indonesia Secara langsung.
Karena keempat teori yang saya sampaikan diatas memiliki banyak kelemahan, maka muncullah teori lain yaitu teori arus balik. Teori ini dicetuskan oleh F.D.K Bosch, menurutnya Agama Hindu masuk ke Indonesia karena dibawa oleh orang Indonesia sendiri. Orang-orang Indonesia yang membawa Agama Hindu ke Indonesia ini berasal dari golongan pemuda yang memang sengaja dikirim oleh para penguasa pribumi untuk mempelajari agama Hindu dan Budha di India. Setelah selesai belajar di India, mereka kemudian pulang ke Nusantara lalu mulai menyebarkan agama Hindu atau Budha.
C.KERAJAAN
HINDU BUDHA DI INDONESIA
10
Kerajaan hindu budha di indonesia
Zaman
Kerajaan di Indonesia yang pertama berkembang di Indonesia yaitu kerajaan Hindu
dan Buddha sedangkan sistem perekonomian yang di gunakan pada waktu itu adalah
perdagangan, sehingga hubungan dengan negara-negara tetangga maupun yang lebih
jauh seperti India, China dan wilayah Timur Tengah pun bisa terjalin.
Pada
zaman kerajaan berkembang Agama Hindu lah yang pertama masuk ke Indonesia dengn
diperkirakan pada awal Tarikh Masehi dan terus berkembang sampai
kerajaan-kerajaan Islam bermunculan. Berikut daftar kerajaan di Indonesia.
1.Kerajaan
Kutai
Kerajaan
Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesi, kerajaan ini didirikan pada
tahun 400 M, di tepi sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
Raja-raja yang memerintah ialah :
Raja-raja yang memerintah ialah :
*
Kudungga(raja pertartama).
* Aswamarman.
* Mulawarman
* Aswamarman.
* Mulawarman
2.Kerajaan
Tarumanegara
Kerajaan
Tarumanegara merupakan kerajaan Hindu, didirikan pada tahun 450 M, di Jawa
Barat. Raja yang memerintah ialah Pernawarman.
3.Kerajaan
Kaling
Kerajaan
Kaling didirikan pada tahun 674 di Jepara, Jawa Tengah. Raja yang memerintah
ialah Ratu Sima. Pendeta yang terkenal ialah lhanabhadra.
4.Kerajaan
Sriwijaya
Kerajaan
Sriwijaya didirikan pada abad ke-7 di Sunmatra (kerajaan Buddha). Raja-raja
yang memerintah ialah:
*
Sri Jayanaga.
* Balaputradewa.
* Sri Sangrawijayatunggawarman.
* Balaputradewa.
* Sri Sangrawijayatunggawarman.
Guru
agama Buddha yang terkenal ialah Sakyakirti
kerajaan
sriwijaya merupakan salah satu kerajaan terkuat dan kerajaan terkaya pada
jamannya...dan disebut sebagai kerajaan maritim dan mempunyai angkatan laut
yang sangat tangguh,sehingga banyak pedagang yang datang ke sriwijaya untuk
berdagang,sebab sriwijaya mampu menjaga keamanan daerah perairan disekitarnya
Sebab-sebab keruntuhan Kerajaan Sriwijaya antara lain :
Sebab-sebab keruntuhan Kerajaan Sriwijaya antara lain :
*
Serangan raja Colamandaladari India.
* Serangan Raja Kertanegara dari Singasari.
* Serangan Raja Kertanegara dari Singasari.
5.Kerajaan
Melayu
Kerajaan
Melayu berdiri hampir bersamaan dengan Kerajaan Sriwijaya, tetapi pada tahun
692 kerajaan ini telah dikuasai Sriwijaya.
6.Kerajaan
Mataram Hindu
Kerajaan
Mataram Hindu berdiri di Jawa Tengah dengan ibukota Medang Kamulan.
Raja-raja
yang memerintah ialah :
*
Sarna
* Sanaya yang bergelar Raka Mataram Ratu Sanjaya.
* Rakai Panangkara, yang bergelar Syailendra Sri Mahraja Dyah Pancapana Rakai Panangkarana
* Sanaya yang bergelar Raka Mataram Ratu Sanjaya.
* Rakai Panangkara, yang bergelar Syailendra Sri Mahraja Dyah Pancapana Rakai Panangkarana
Setelah
memerintah Rakai Panagkaran, Mataram pecah menjadi dua. Sebagai pemeluk agama
Buddha, sebagai pemeluk agama Hinsu. Syailendra Buddha berkuasa di Jawa Tengah
Selatan, Syailendara Hindu berkuasa di sekitar pegunungan Dieng. Pada masa
pemerintahan Rakai Pikatan, Mataram disatukan kembali
Raja-raja yang selanjutnya ialah :
Raja-raja yang selanjutnya ialah :
*
Belitung yang bergelar Rakai Watukara.
* Daksa.
* Tulodong
* Wawa
* Mpu Sendok.
* Daksa.
* Tulodong
* Wawa
* Mpu Sendok.
7.Kerajaan
Wangsa Isyana
Mpu
Sendok memindahkan pusat pemerintahan Syailendra Ke Jawa Timur pada tahun 929,
kemudian membentuk wangsa baru, yaitu Wangsa Isyana. Raja-raja yang memerintah
:
*
Mpu Sendok, bergelar Maharaj Rake Hino Sri Isyana Wikramadharmotunggadewa.
* Sri Isyanatunggawijaya
* Makutawangsawardhana.
* Darmawangsa, bergelar Sri Darmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa.
* Airlangga, bergelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa.
* Sri Isyanatunggawijaya
* Makutawangsawardhana.
* Darmawangsa, bergelar Sri Darmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa.
* Airlangga, bergelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa.
Tahun
1401 kerajaan kahuripan di bagi menjadi dua 2 (tugas pembagian di serahkan
kepada Mpu Bharada), yaitu :
*
Janggala atau Singasari, dengan ibukota Kahuripan.
* Panjalu atau Kediri, dengan ibukota di Daha.
* Panjalu atau Kediri, dengan ibukota di Daha.
8.Kerajaan
Kediri
Kerajaan
Janggala di perintah oleh Raja Mapanji Garakasan. Kerajaan Kediri di perintah
oleh raja Sri Samarawijaya.
Perebut kekuasaan antara jenggala dan kediri berlangsung sampai tahun1520. Selanjutnya selama kurang lebih setengah abad ke dua kerajaan tersebut tidak disebut-sebut lagi dalam sejarah.
Perebut kekuasaan antara jenggala dan kediri berlangsung sampai tahun1520. Selanjutnya selama kurang lebih setengah abad ke dua kerajaan tersebut tidak disebut-sebut lagi dalam sejarah.
Tahun
117 kerajaan ini tampil lagi dengan rajanya :
*
Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Kameswara.
* Jaya baya, bergelar Sri Maharaja Sang Mapanji jaya Jayabaya
Pada masa itu, kitab Baharata Yudha di gubah oleh Mpu sedihdan di lanjutkan Mpu Panuluh (Mpu Sedah meninggalkan sebelum kitabnya selesai)
* Mpu Penuluh juga menulis buku Hariwangsa dan Gatutkacasraya.
* Sri Aryeswara.
* Kameswara, bergelar Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawarata.
* Jaya baya, bergelar Sri Maharaja Sang Mapanji jaya Jayabaya
Pada masa itu, kitab Baharata Yudha di gubah oleh Mpu sedihdan di lanjutkan Mpu Panuluh (Mpu Sedah meninggalkan sebelum kitabnya selesai)
* Mpu Penuluh juga menulis buku Hariwangsa dan Gatutkacasraya.
* Sri Aryeswara.
* Kameswara, bergelar Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawarata.
Pujangga
yang terkenal pada masa itu adalah :
*
Mpu Tanakung, karyanya Werasancaya dan Lubdaka.
* Mpu Darmaja, karyanya Smaradhahana.
* Mpu Darmaja, karyanya Smaradhahana.
Kerajaan
Kediri runtuh pada tahun 1222, karena ditaklukkan oleh Ken Arok.
9.Kerajaan
Bali
A.
Raja-raja Wangsa Warmadewa
Salah
satu wangsa terkenal yang memerintah di bali ialah wangsa Warmadewa.
Raja yang terkenal ialah :
Raja yang terkenal ialah :
*
Sri Candrabhaysingka Warmadewa.
* Udayana, bergelar Dhamodayana Warmadewa.
* Udayana, bergelar Dhamodayana Warmadewa.
Udayana,
berputar tiga orang yaitu :
*
Airlangga, yang menjadi menantu Raja Dharmawangsa, dan kemudian menjadi raja
Kahuripan (kerajaan wangsa Isyana).
* Marataka, yang menggantikan Udayana (tetapi tidak terkenal).
* Anak Wungsu, yang menggantikan tahta Marataka tahun 1049.
* Dari pemerintahan Anak Wungsu di tinggalkan 28 buah prasasti Singkat, yang antara lain di temukan di goa Gajah, Gunung Kawi (Tampak Siring), Gunung Panulisan, dan Sangit.
* Marataka, yang menggantikan Udayana (tetapi tidak terkenal).
* Anak Wungsu, yang menggantikan tahta Marataka tahun 1049.
* Dari pemerintahan Anak Wungsu di tinggalkan 28 buah prasasti Singkat, yang antara lain di temukan di goa Gajah, Gunung Kawi (Tampak Siring), Gunung Panulisan, dan Sangit.
B.
Raja-Raja Lain di Bali
Sesudah
pemerintahan wangsa Warmadewa, Pulau Bali di perintah oleh raja-raja lain yang
Berganti-ganti, yang terkenal di antaranya :
Berganti-ganti, yang terkenal di antaranya :
*
Jayasakti, mempunyai kitab undang-undang yaitu uttara Widhi Balawan dan
Rajawacana (1133 – 1150).
* Jayapangus, menggunakan kitab undang-undang Manawasasa nadharma (117 – 1181).
* Tahu 1284 Kerajaan Bali di taklukan oleh Kertanegara dari Singa-sari.
* Jayapangus, menggunakan kitab undang-undang Manawasasa nadharma (117 – 1181).
* Tahu 1284 Kerajaan Bali di taklukan oleh Kertanegara dari Singa-sari.
10.Kerajaan
Singasari
Riwayat dan pemerintahan Ken Arok serta raja-raja Singasari terdapat dalam buku Pararaton dan negara kertagama. Raja-raja yang memerintah ialah :
Riwayat dan pemerintahan Ken Arok serta raja-raja Singasari terdapat dalam buku Pararaton dan negara kertagama. Raja-raja yang memerintah ialah :
1)
Ken Arok.
Ken
Arok menjadi raja Singasari setelah membunuh Tumapel Tunggul Ametung dan menaklukkan
Kerajaan Kediri tahun 1222 di Ganter. Ken Arok sebagai pendiri dan raja pertama
di Singasari yang bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi, kemudian
keturunannya terkenal dengan sebutan wangsa Rajasa.
2)
Anusapati (anak Tunggul Ametung - Ken Dedes).
Anusapati
menjadi raja Setelah membunuh Ken Arok (ayah tirinya), dengan menyuruh seorang
pengalasan (budak).
3)
Tohjaya (anak Ken Arok - Ken Umang).
Tohjaya
menjadi raja setelah membunuh Anusapati. Tahun 1248 timbul pemberontakan yang
dilancarkan oleh :
*
Ranggawuni (anak Anusapati).
* Mahisa Campaka (anak Mahisa Wongaleleng atau cucu Ken Arok dan Ken dedes)
* Mahisa Campaka (anak Mahisa Wongaleleng atau cucu Ken Arok dan Ken dedes)
4)
Ranggawuni.
Bergelar
Sri Jaya Wisnuwardhana 1248 - 1268. Wisnuwardhana memerintah Singasari
bersama-sama Mahisa Cempaka sebagai Ratu Anggabaya, yaitu pejabat tinggi yang
bertugas menanggulangi bahaya yang mengancam kerajaan, gelarnya
Narasinghamurti.
5)
Kertanegara.
Bergelar
Srimaharajadhiraja Sri Kartanegara (1269 – I292), merupakan raja Singasari yang
terbesar. Tahun 1275 dikirimnya ekspedisi Pamalayu.
daerah
yang ditaklukkannya antara lain Bali, Pahang, Sunda, Bakulapura (Kalimantan
Barat Daya) dan Gurun (Maluku) serta mengadakan hubungan persahabatan dengan
Jaya Singawarman - Raja Campa. Tahun 1292 di taklukan oleh Jayakatwang dari
Kediri.
tarsyidin7

0 komentar:
Post a Comment